Awal dari Cinta
Awal dari cinta adalah membiarkan orang yg kita cintai menjadi dirinya sendiri dan tidak merubahnya menjadi gambaran yg kita inginkan..
Jika tidak,
kita hanya mencintai pantulan diri sendiri yg kita temukan di dalam dia..
Did u find ur true love ?? ![]()
Mari kita belajar dgn merpati yg tak pernah ingkar janji
-unknown source-
suwito HP 4:36 am pada 22 Desember 2009 Permalink |
Menurut petuah berbagai teman yang sudah berumah tangga, ternyata memang dibutuhkan komitmen luar biasa untuk mempertahankan hubungan itu. Saat pacaran, dengan menikah, itu bedanya bumi and langit. Di pacaran, toleransi sangat tinggi, meskipun kedua belah pihak sama2 merasa sudah sampe kelihatan semua kejelekan dan kebaikannya. Nggak heran, Gombloh menyebutnya sebagai periode “tahi kucing rasa cokelat”. Namun, toleransi itu menurun ketika sudah berumah tangga, apalagi ketika sudah memiliki anak. Hal2 remeh yang gak penting, sangat bisa menjadi masalah besar yang merusak hubungan.
Pada waktu pacaran, dalam banyak kasus, porsi toleransi bisa 60% pacar dan 40% diri sendiri. Sehingga, kata2 “pengorbanan” menjadi dianggap wajar di masa2 ini.
Namun, ketika kawin/menikah. Dalam banyak kasus, porsinya mulai terbalik menjadi 60% diri sendiri dan 40% keluarga (dibagi antara anak dan pasangan), sehingga kata2 “pengorbanan” mulai dianggap sangat tidak wajar.
Idealnya, menurut petuah, adalah 50:50. Tapi itu dibutuhkan kematangan emosi yang luar biasa dari ke-2 belah pihak untuk tidak saling menuntut pengorbanan satu sama lain.
Berhubung aku belum pernah pacaran, apalagi kawin/nikah, maka kadang bingung juga dengan petuah-petuah tersebut. Kelihatannya, begitu complicated untuk membina hubungan intim yang berawal dengan bahagia dan berakhir dengan bahagia juga.
Kata2 “cinta”-pun merupakan kata yang perlu didefinisikan dengan jelas antar ke-2 pihak, apakah ini merupakan cinta untuk memiliki atau cinta untuk membahagiakan?
Menurut teori romantisme ala para romansa romansa, bahwa 2 orang yang saling mencintai, tidak harus saling memiliki, namun, mereka bisa hidup berbahagia.
Masalahnya adalah, sebuah hubungan yang kemudian berakhir dengan trauma, kesakitan, dst hingga cerai, rebutan harta gono gini dst, itu akibat cinta yang definisi mana?
Hehehe, tapi bicara masalah CINTA, memang deritanya tiada habis (menurut Ciu Pat Kay) ^_^
Ada seorang sahabat yang menyebutkan CINTA sebagai:
C erita
I ndah
N amun
T iada
A rti
Gak tau setuju apa gak?
All the best to romantic life ^_^
Redaksi 5:40 pm pada 30 Desember 2009 Permalink |
Kalau menurut saya, cinta dan komitmen pada akarnya, haruslah dimiliki oleh seseorang yang sudah mantab secara pribadi.
Cinta sebaiknya bukan dijalin karena merupakan ‘pemenuhan dari kebutuhan-kebutuhan pribadi’ seperti butuh perhatian, butuh kasih sayang (dalam arti yang kurang mandiri), butuh bantuan financial, butuh status, dsb.
Jika pribadi seseorang sudah terbentuk secara sempurna dan dewasa, maka cinta dan komitmen yang dijalin di dalamnya pun akan memiliki kualitas yang mantab. Sehingga dalam perjalanan suka duka cinta tersebut, semuanya akan mampu diatasi dan diterima dengan indah.
Bukankah segala tantangan di dalam rumah tangga itu justru makin membentuk dan menumbuhkan cinta itu sendiri?
Menjadi lebih kokoh, lebih berakar, lebih mantab lagi menuju ke tantangan-tantangan berikutnya…
Suami istri yang ideal adalah makin bersahabat dengan beriringnya waktu.
Jangan lupa : nobody perfect! Life’s is not perfect!
“Loving imperfect perfectly” is always a very good motto for couples.
I know its very an ideal words… but i think its a very good reminder to keep our loves straight!
“To hold and to have… in happy and sorrow… ”
Your couple, who’s willing to deal sorrow with you, years by years… its not a simple things.
Its must be the best couples you ever have =)
Go!!! for Happy Families!